Deteksi Virus Corona dengan Kecerdasan Buatan Lebih Melampaui WHO

Published on January 29, 2020

Perusahaan kecerdasan buatan yang berasal dari Kanada, BlueDot, mengklaim telah berhasil mendeteksi dan memberikan peringatan soal virus tentang virus Corona yang terjadi di Wuhan, China. BlueDot mengaku lebih dulu mengabarkan kepada masyarakat daripada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Kesehatan Amerika Serikat.

Dilansir dari Wired, BlueDot pun di ketahui telah mengabarkan kepada para pelanggannya sejak tanggal 31 Desember 2019.

Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui baru mengabarkan keberadaan virus mirip flu di Wuhan pada 9 Januari 2020. Sedangkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menginformasikan virus tersebut pada 6 Januari 2020.

Kinerja dari kercerdasan buatan BlueDot ini menggunakan alogaritma yang digerakkan oleh AI untuk menjelajahi laporan berita berbahasa asing, jaringan penyakit hewan dan tumbuhan, serta memberi pernyataan resmi kepada kliennya untuk menghindar dari zona berbahaya seperti Wuhan.

Keterlambatan informasi oleh WHO dan CDC mengenai virus corona di Wuhan di duga terjadi akibat pejabat China yang tutup mulut. Selain itu, negara China juga dikenal sebagai negara yang tidak memiliki rekam jejak yang baik dalam mengelola informasi mengenai penyakit, polusi udara, serta bencana alam.

“Kami tahu bahwa pemerintah mungkin tidak dapat diandalkan untuk memberikan informasi secara tepat waktu,” ujar CEO BlueDot, Kamran Khan.

“Kita dapat mengambil berita tentang kemungkinan wabah, murmur kecil atau forum atau blog tentang indikasi beberapa peristiwa yang tidak biasa terjadi,” ungkapnya.

Khan pun menjelaskan bagaimana  algoritma BlueDot tidak menggunakan postingan di media sosial untuk mendeteksi informasi mengenai virus Corona karena menurutnya data tersebut terlalu berantakan. BlueDot menggunakan data tiket maskapai global untuk memprediksi ke mana dan kapan warga yang terinfeksi pergi.

Dengan menggunakan trik tersebut, mereka pun berhasil untuk memprediksi bahwa virus Corona akan menyebar ke Bangkok, Soul, Taipei, dan Tokyo beberapa hari setelah kemunculan nya di awal.

Tren AI untuk Temukan Informasi Virus Penyakit
Deteksi Virus Corona dengan Kecerdasan Buatan Lebih Melampaui WHO

Sejauh ini, hanya pejabat kesehatan di sejumlah negara seperti Amerika Serikan dan Kanada yang menerima laporan BlueDot. Selain itu, BlueDot juga masih memberikan laporannya kepada maskapai penerbangan dan rumah sakit. Sedangkan untuk masyarakat belum bisa di berikan secara cuma-cuma.

Selanjutnya di lansir dari The Telegraph, AI dinilai dapat membantu mendeteksi penyebaran virus Corona dan virus lain di hari yang akan datang. Maka dari itu, pembuatan AI yang dapat memprediksi penyebaran penyakit secara akurat sekarang menjadi prioritas bagi para peneliti di seluruh dunia.

“AI dapat mengumpulkan data tentang pergerakan manusia dari berbagai hal seperti catatan penerbangan, informasi lalu lintas … Anda bahkan dapat membayangkan informasi yang dikumpulkan melalui Google,” ujar salah seorang peneliti dari Universitas Glasgow Daniel Streicker.

Menurut Streicker saat ini sejumlah teknologi AI telah digunakan untuk memprediksi penyebaran penyakit. Contohnya seperti perusahaan milik co-founder Microsoft Paul Allen bernama Vulcan yang menggunakan data pergerakan untuk memprediksi wabah Ebola.

Sedangkan di sisi lain, Harvard School of Public Health juga tengah melakukan penelitian di Bangladesh dengan menggunakan data dari jaringan ponsel untuk memprediksi di mana wabah penyakit berasal.

Enjoyed this video?
Deteksi Virus Corona dengan Kecerdasan Buatan Lebih Melampaui WHO
"No Thanks. Please Close This Box!"